Jerry Massie: PPHN Harus Menjadi Landasan Moral dan Strategis agar Supremasi Hukum dan Keadilan Sosial Tidak Sekadar Konsep, Tapi Nyata Dirasakan oleh Masyarakat

AGARA NOW

- Redaksi

Jumat, 14 November 2025 - 00:42 WIB

50177 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA |  Menanggapi wacana yang kembali digaungkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia mengenai penetapan Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) sebagai arah pembangunan nasional jangka panjang, Direktur Political and Public Policy Studies, Jerry Massie, menyatakan dukungannya terhadap pentingnya keberadaan format haluan negara seperti yang pernah dihadirkan melalui Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Menurut Jerry, PPHN bukan sekadar dokumen formal, melainkan kompas moral dan strategis bangsa di tengah kompleksitas tantangan global dan domestik saat ini.

“GBHN atau yang sekarang disebut PPHN penting sebagai standar sebuah bangsa. Sikap nasionalis kita mulai terkikis oleh budaya intoleransi dan radikalisme, yang perlahan menggeser jati diri bangsa. Budaya asing lebih mudah masuk, sementara budaya kita justru tenggelam. Inilah mengapa negara memerlukan haluan yang jelas untuk menentukan arah perjalanan bangsa,” ujar Jerry, Kamis (13/11/2025).

Menurut pengamat kebijakan publik tersebut, merosotnya nilai, moral, dan akhlak masyarakat menjadi salah satu dampak dari dihapusnya pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan GBHN pasca reformasi. Ia menilai, penghapusan dua landasan moral negara tersebut berdampak pada melemahnya fondasi karakter masyarakat, yang sebelumnya diarahkan melalui konsep pembangunan berasaskan Pancasila serta kepemimpinan nasional yang konsisten.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Hilangnya GBHN membuat masyarakat kehilangan pedoman yang selama ini menjadi sumber kesatuan pola pikir, cara bertindak, dan pola pembangunan yang berpihak pada kepentingan bersama, di atas segala perbedaan suku, agama, dan ras,” katanya.

Lebih lanjut, Jerry menekankan bahwa PPHN tidak sekadar mengatur perencanaan pembangunan lima tahunan, namun juga harus mengandung nilai-nilai konstitusional yang mewujudkan masyarakat yang demokratik, menjunjung tinggi hak asasi manusia tanpa mengorbankan nilai kemanusiaan lainnya, menjaga keadilan sosial, serta menegakkan supremasi hukum dengan tetap berlandaskan akhlak, budaya, dan etika kehidupan berbangsa.

“PPHN bukan hasil dari rekayasa politik atau kepentingan politis sesaat, melainkan refleksi cita-cita dan amanah para pendiri bangsa. Fungsi utamanya adalah sebagai arah tetap, yang tidak mudah diubah hanya karena pergantian kekuasaan atau kepentingan pragmatis jangka pendek,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Jerry juga mengusulkan agar pemerintah menghidupkan kembali kerangka perencanaan pembangunan jangka menengah dan panjang seperti yang pernah diterapkan melalui konsep Pembangunan Lima Tahun (Pelita) dan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) pada masa Orde Baru. Ia menilai, model perencanaan seperti itu terbukti membawa stabilitas ekonomi dan arah pembangunan nasional yang terukur.

“Kita tidak bisa menutup mata terhadap keberhasilan masa lalu. Program seperti Pelita berjalan sukses sejak 1969. Dulu kita pernah mengalami inflasi hingga 600 persen pada 1967, dan bisa ditekan hingga menjadi 10 persen saja pada 1969-1970. Ini terjadi berkat perencanaan yang sistematis dan kepemimpinan yang fokus,” ujarnya.

Ia menyebut keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran tokoh-tokoh ekonomi nasional seperti Widjojo Nitisastro dan Ali Wardhana, termasuk jajaran teknokrat pada masa itu seperti Radius Prawiro, JB Sumarlin, hingga Mar’ie Muhammad, yang dinilai sebagai sosok profesional berintegritas dan kompeten di bidangnya.

“Mereka bukan sekadar pejabat, tapi negarawan. Bahkan ayah dari Presiden terpilih saat ini, Prabowo Subianto, sempat dua kali duduk di kabinet pada era Presiden Soekarno dan Soeharto, dan memiliki kontribusi besar dalam diplomasi dan ekonomi,” paparnya.

Dalam pandangan Jerry Massie, untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, pemerintah perlu menyusun kebijakan pembangunan yang tidak terpengaruh oleh pembagian kekuasaan di kursi kabinet. Ia menyoroti bagaimana kepentingan politik acapkali mengganggu niat baik dan keberlanjutan program-program jangka panjang, sehingga rakyat miskin tetap terjebak dalam ketergantungan terhadap bantuan sosial dan sulit mengakses pendidikan serta kebutuhan dasar lainnya.

“Masalah sesungguhnya bukan sekadar pergantian rezim, tapi tidak adanya keberlanjutan perencanaan pembangunan. Semuanya selalu berganti sesuai dengan siapa yang berkuasa. Tidak boleh seperti itu. Pemerintah seharusnya memikirkan keberlanjutan ekonomi rakyat secara utuh. Jangan seperti era Jokowi, yang menurut saya lebih banyak menguntungkan kelompoknya saja,” pungkasnya.

Dengan kembalinya PPHN dalam wacana kenegaraan, upaya membangun sistem perencanaan pembangunan yang inklusif, terukur, dan berkelanjutan diharapkan tidak hanya menjadi simbol kebangkitan nasionalisme, tetapi juga penguatan kembali fondasi kebangsaan yang menjunjung tinggi persatuan, keadilan sosial, serta kemanusiaan yang beradab. (RED)

Berita Terkait

Menteri Agus Andrianto Resmi Buka Mubes ke-6 Pujakesuma, Dorong Kolaborasi Ketahanan Pangan dan Pelestarian Budaya
Prof DR Sutan Nasomal : Bijaksana Mengartikan Londo Ireng Sangat Penting Karena Semua Itu Adalah Saksi Sejarah
Tanpa Rompi, Tanpa Borgol, Eks Jampidsus Jadi Sorotan: PW GP Al Washliyah Desak Transparansi
Pesan dari Kalimantan Menggema hingga Jakarta, PW GP Al Washliyah DKI: Lagu ‘Teruslah Melangkah’ Mayjen TNI Krido Pramono Bangkitkan Semangat Generasi Muda Berkarya
Berani lawan Judol dan Pinjol, DPR RI Yasonna H. Laoly Diteror Puluhan Telepon Misterius, PW GP Al Washliyah Desak Kemkomdigi Usut Tuntas
DPP LPPI: Publik Berhak Tahu Siapa yang Mengatur Konferensi Pers Hotman di Gedung Kejagung
Pernyataan Hotman Sebut Kapolri Harus Izin Presiden untuk Tetapkan Tersangka, DPP LPPI : Sangat Menyesatkan
Prof Sutan Nasomal : Presiden RI Harus Sadar Total Hak Hidup Dan Mati “Sedang Di Jadikan Judi Elit Global”

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 12:56 WIB

Suporter Bekasi Raya Bersatu: Tolak Tawuran, Narkoba dan Kekerasan

Kamis, 2 Juli 2026 - 11:52 WIB

Wujudkan Kota Bogor Aman, Ikatan Alumni dan Pelajar STM/SMK Sepakat Tolak Kekerasan

Senin, 15 Juni 2026 - 17:50 WIB

ALPETARA Deklarasikan Gerakan Anti Tawuran dan Narkoba, Ajak Pelajar Tangerang Raya Fokus Berprestasi

Jumat, 1 Mei 2026 - 19:37 WIB

Futsal May Day Cup 2026 Pelajar Se-Tangerang Raya, Bersatu Jaga Kamtibmas

Jumat, 1 Mei 2026 - 19:21 WIB

Futsal May Day Cup 2026 Pelajar Se-Tangerang Raya: Stop Tawuran, Anarkis, Vandalisme dan Tolak Narkoba

Senin, 20 April 2026 - 03:07 WIB

Jebret!!, Ketum PDBN, Fathan Subchi Ajak Satukan Langkah Bangun Daerah

Jumat, 10 April 2026 - 17:51 WIB

Ketua Pemuda Tangsel Bersatu Aprilyandi, Serukan Anti Anarkis Pelajar dan Gen Z Jaga Kebersamaan

Jumat, 10 April 2026 - 17:29 WIB

Jaga Anarkisme, M. Aprilyandi: Pelajar dan Pemuda Harus Bersatu Ciptakan Kamtibmas

Berita Terbaru